Saturday, May 17, 2008

MENGHADIRKAN TAKWIL GAYA BARU

MENGHADIRKAN TAKWIL GAYA BARU

DALAM PEMBACAAN AL-QUR’AN

A. Latar Wacana

Dalam analisisnya terhadap wacana pemikiran dunia Arab, Jabiri menyimpulkan bahwa dunia Arab dalam perjalanan panjangnya didominasi oleh tiga episteme, yakni Irfani, bayani dan burhani.1 Menurutnya, yang paling dominan dalam wacana pemikiran Islam Arab adalah episteme bayani, dan hal itu bertahan hingga sekarang. Episteme bayani adalah suatu episteme yang menjadikan teks dan kaidah kebahasaan sebagai satu-satunya patokan dalam memandang realitas, baik realitas yang berkaitan dengan dunia maupun ke-ilmuan. Persoalan apapun yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat kerapkali dikaitkan dengan teks, pasalnya tradisi nalar Arab tidak lepas dari realitas di mana Arab menganut peradaban teks. 2

Karena itu, dalam konteks wacana, pemikiran Arab bercorak normatif-teologis dan strukturalistik. Dikatakan normatif-teologis, karena wacana yang dilahirkan darinya diyakini sebagai kebenaran mutlak, dan dikatakan strukturalistik, karena bahasa manjadi pusat wacana, bahkan akal-pun harus diukur dengan bahasa, lebih-lebih realitas. Kenyataan seperti ini, tentunya dalam konteks kekinian, tidak layak lagi digunakan, pasalnya realitas dimana kita hidup berbeda dengan realitas klasik yang membentuk kebudayaan Arab. Penggunaan wacana pemikiran yang demikian dalam konteks kekinian tentu akan membuat masyarakat sekarang hidup di alam masa lalu dan pada gilirannya-- dapat dipastikan-- mereka bakal ketinggalan kereta perubahan zaman.

Guna memberikan pencerahan wacana terhadap umat Islam problem pembacaan teks menjadi persoalan utama. Pasalnya, di samping teks memuat beragam makna, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, masing-masing pembaca membawa budaya dan logikanya sendiri ketika membaca teks. Idealnya, sebagaimana pembaca masa lalu, pembaca masa sekarang juga menggunakan logikanya sendiri dalam membaca teks, bukan mengadopsi kreasi pembacaan masa lalu secara mentah-mentah.

Hanya saja, penulis tidak bermaksud mengungkap apa yang telah dibahas oleh para ahli ilmu al-Qur’an. Itu telah panjang lebar dibahas, baik dalam bentuk jurnal, makalah lepas maupun dalam bentuk buku-buku utuh. Penulis hanya akan melakukan suatu pembacaan kritis terhadap metode pembacaan al-Qur’an yang telah lama menjadi rujukan para mufasir yang hingga kini telah melahirkan beribu-ribu tafsir.



1 Muhammad Abid al-Jabiri, Bunyatul Aqlil Arabiy, Dirâsah Tahliliah, Naqdiyah li Nadmi al-Ma’rifah fi als-Tsaqafah al-Arobiah, Lebanun: Bairut Markaz Dirasah al-Wahda al-Arabiyyah, 1990

2 Nar Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Qur’an: Kritik Atas Ulumul Qur’an, Yogyakarta: LkiS, 2001